Perubahan Iklim Picu Variasi Penularan Penyakit

Perubahan iklim dan memburuknya cuaca dikhawatirkan memicu timbulnya berbagai penyakit tertentu di Jawa Barat sepanjang tahun 2009. Masyarakat diminta waspada karena penyebaran penyakit disebarkan melalui berbagai macam media.

Menurut Kepala Subdinas Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, Fita Rosemary, Kamis (22/1), di Bandung, perubahan iklim akibat pemanasan global dan lokal juga memengaruhi dunia kesehatan di Jabar. Fenomena itu menyebabkan beragamnya penularan berbagai penyakit, baik melalui perantara mahluk hidup, air, maupun udara.

Melalui perantara mahluk hidup, Fita melihat penyakit dipicu nyamuk, seperti demam berdarah atau malaria. Dalam keadaan udara lebih hangat, nyamuk menurut berkembang biak lebih cepat. Nyamuk bertelur lebih banyak dan menetaskan telurnya lebih cepat kurang dari 21 hari.

Fita mencontohkan kasus demam berdarah yang terjadi bulan Januari 2009. Hingga tanggal 20 Januari 2009, jumlah penderita demam berdarah di Jawa Barat mencapai 1.059 orang. Sebanyak 10 orang di antaranya meninggal dunia.

“Sekarang, kasus demam berdarah tidak terjadi di daerah dataran rendah tetapi pengunungan yang dahulu berhawa sejuk atau dingin. Pemanasan global membuat pengunungan lebih hangat dan menjadi tempat berkembang biak yang baik bagi nyamuk,” katanya. Contohnya Kabupaten Bogor. Bulan Januari 2008, penderita hanya 608 orang, tetapi saat ini meningkat menjadi 728 orang.

Selain lewat perantara mahluk hidup, air juga kerap menjadi momok bagi beberapa daerah. Menurut Fita, buruknya sanitasi akan sangat potensial meningkatkan kasus diare. Sepanjang tahun 2008, tercacat 818.645 penderita diare dan 40 orang di antaranya meninggal dunia.

Kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Bogor dengan 144.253 penderita, dan Kabupaten Garut sebanyak 132.599 penderita. Curah hujan tinggi yang terjadi di beberapa daerah dikhawatirkan akan memicunya.

Penyebaran penyakit lewat udara juga tidak bisa diremehkan. Di beberapa daerah bahkan menyebabkan kematian. Fita mengatakan, infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA merupakan momok berbahaya.

Berdasarkan data tahun 2009, penderita ISPA akut sebanyak 89.014 penderita dan ISPA tanpa pneumonia mencapai 773.119 penderita. Dari jumlah itu, sebanyak 2.140 bayi dan 129 anak balita meninggal dunia.

Faktor penyebabnya adalah bakteri Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, dan virus seperti Mikrovirus serta Adenovirus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: