Wartawan Peliput jadi Tersangka

Andy Siahaan, wartawan peliput kecurangan pemilihan umum legislatif yang diduga dilakukan Panitia Pemilihan Kecamatan di Kota Pematang Siantar, malah dijadikan tersangka dugaan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dan penghinaan terhadap Camat Siantar Timur, Junaidi Sitanggang. Atas tuduhan ini, Andy yang sehari-hari merupakan wartawan Trans TV, balik melaporkan Junaidi yang dianggap menghalang-halangi tugas jurnalistik.

Menurut Andy, tudingan melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan penghinaan terhadap Junaidi bermula dari liputan yang dia lakukan tanggal 11 April lalu. Sebelumnya dia tengah melakukan liputan tentang tuntutan penghitungan suara ulang oleh Aliansi Partai Politik di Pematang Siantar. Tuntutan ini terkait dugaan kecurangan saat terjadi rekapitulasi suara di tingkat kecamatan.

“Saya mendapat info terjadi keributan saat puluhan pengurus partai politik yang mengatasnamakan Aliansi Parpol di Siantar meminta dilakukan penghentian rekapitulasi suara di Kecamatan Siantar Timur. Terjadi pertengkaran antara pengurus parpol dengan Camat Siantar Timur. Melihat situasi tersebut saya lalu mengambil gambar pertengkaran itu. Di saat itulah, secara arogan Camat Siantar Timur mendatangi saya dan mencoba merampas kamera,” papar Andy.

Peristiwa tersebut justru semakin memicu kemarahan pengurus parpol yang mencoba membuka pagar kantor kecamatan secara paksa. Andy sempat menanyakan tindakan Junaidi tersebut. Andy berujar kepada Junaidi, mengapa sebagai pejabat, dia tidak tahu tugas wartawan padahal Junaidi adalah lulusan salah satu perguruan tinggi yang mendidik calon pamong.

Pertengkaran tersebut berbuntut panjang, karena Junaidi melaporkan Andy ke Polresta Pematang Siantar dengan tuduhan melakukan perbuatan tidak menyenangkan, penghinaan dan memaksa masuk dalam sebuah ruangan. Andy diancam pasal 335 subsider Pasal 310 dan pasal 168 ayat tiga dan empat KUHP.

“Saya juga balik menuntut Junaidi karena menghalang-halangi tugas jurnalistik. Banyak saksi yang melihat kejadian tersebut, dan saya sama sekali tak memaksa masuk dalam kantor kecamatan,” ujar Andy.

Menurut Divisi Advokasi Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Medan Onny Kresnawan, tak sepatutnya pejabat setingkat camat justru menghalang-halangi tugas wartawan. Mestinya sebagai pejabat publik dia tahu, tugas wartawan kan menginformasikan kebijakan-kebijakan yang berdampak langsung terhadap publik. “Kalau tindakan menghalang-halangi tugas jurnalistik itu dilakukan oleh preman, kami masih bisa memahaminya, tetapi ini dilakukan seorang pejabat publik,” ujar Onny.

AJI Medan, lanjut Onny, siap mengadvokasi Andy karena yang bersangkutan memang tengah melakukan tugas jurnalistiknya. “Kami siap mengadvokasi Andy, apalagi dia tengah melakukan tugas-tugas jurnalistik,” katanya.

Menurut Andy, bukan sekali ini wartawan di Pematang Siantar dihalang-halangi pejabat publik dalam melakukan liputan. Saat meliput dugaan kampanye terselubung yang diduga dilakukan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Pematang Siantar, wartawan dilarang mengambil gambar. “Kasus ini juga telah kami laporkan ke polisi,”katanya.

Junaidi sendiri saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, tak mengangkat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: